Kondang Sutrisno (Ketua Umum PEPADI), “Revolusi Mental Dimulai dari Budaya, dan Silaturahmi adalah Kuncinya”

kondang-utama

Festival Dalang Bocah 2015 akhirnya resmi ditutup. Ajang yang mempertemukan Dalang Bocah dari berbagai daerah ini meninggalkan kesan mendalam bagi para pecinta Wayang yang mendatangi Museum Seni Rupa dan Keramik, tempat FDB 2015 dihelat.

Ketua Umum Pepadi Pusat, Bapak Kondang Sutrisno, dalam pidato penutupannya berulangkali mengungkapkan kegembiraan atas keberhasilan pelaksanaan ajang ini. “Rasanya masih sulit menerima Festival Dalang Bocah ini harus ditutup,” ujarnya. Pak Kondang merasa kesan FDB kali ini sangat mendalam bagi dirinya. Terlebih, ini merupakan event perdana Pepadi di bawah kepemimpinan beliau. Pesannya pada para peserta agar sepulang dari ajang ini tetap menjaga kerendahan hati. “Sepulang dari sini, anak-anak (peserta) harus bisa membawa penyegaran diri bagi lingkungannya,” pesannya.

FDB 2015 memang sedikit berbeda dengan FDB sebelumnya. Sejak awal, nuansa keintiman dan kehangatan lebih terasa. Jauh dari kesan kompetisi. Tidak ada juara 1, 2, atau 3 seperti lazimnya sebuah kompetisi. Semua penampil memang memiliki kemampuan yang setara, masing-masing memiliki kelebihan. Dewan Pengamat pun merasa kesulitan untuk memilih yang terbaik. “Semuanya terbaik!” ujar Trisno Santoso, Ketua Dewan Pengamat kala pengumuman Pemenang. Alhasil, semua mendapatkan predikat terbaik dalam beberapa kategori dengan Aditya Saputra, peserta dari Riau dinobatkan sebagai Dalang Mumpuni.

Pak Kondang memang sengaja menggunakan pengumuman tak lazim tersebut, setelah melalui diskusi panjang dengan Dewan Pengamat. Bukan untuk sekedar tampil beda, tapi argumentasi dasarnya lebih didasari pertimbangan mentalitas anak. “Apakah anak-anak bisa terima suatu kekalahan? Orang dewasa saja sulit, apalagi anak-anak,” terang Beliau. “Jangan sampai sepulang dari sini jadi beban mental karena kalah dalam Festival. Tidak ada yang kalah.”

Pria kelahiran Blora ini memang dikenal mencintai Wayang sejak lama. Sebelum menjadi Ketua Umum Pepadi, beliau lebih dulu dikenal sebagai pendiri Yayasan Putro Pendowo yang juga aktif dalam dunia pewayangan. Ia juga dikenal banyak membantu kiprah beberapa Dalang hingga malang melintang seperti sekarang. Pada akhir pengumuman, penyuka tokoh Wisanggeni ini bahkan memberi kejutan kepada peserta. Memiliki banyak koleksi Wayang dari berbagai gagrag, beliau memperkenankan masing-masing peserta memilih satu Wayang koleksinya sebagai cinderamata, lengkap dengan tanda tangan beliau. Semuanya dilakukan di depan panggung, disaksikan penonton yang terkesima.

Sang Ketua Umum sepertinya hendak membangun terobosan-terobosan baru bagi dunia Wayang dan Pedalangan melalui kepengurusannya ini. Baginya, Wayang adalah bagian dari peradaban luhur yang harus terus dijaga. Meski tak bisa menyembunyikan raut lelah di wajahnya, beliau masih menyempatkan diri untuk berbincang dengan tim media center FDB 2015 pasca penutupan.

Berikut petikan wawancara dengan Pak Kondang Sutrisna dengan awak media center FDB 2015.

Tim Media Center: Bagaimana perasaannya setelah melalui tiga hari yang cukup sibuk ini, Pak?

Pak Kondang Sutrisno: Capek tapi puas. Walaupun belum tentu yang kita lakukan bisa memuaskan semua pihak. Tapi sak kemampuan kita, tetap memberikan yang terbaik.

Setiap FDB pasti memiliki kesan khusus. Untuk FDB kali ini, kesan apa yang paling menonjol?

Ada perkembangan peserta dari daerah. Semua daerah tampil dengan sangat baik. Lalu yang tidak disangka-sangka, justru dari Riau yang terpilih menjadi Dalang Mumpuni. Sampai-sampai Dewan Juri atau Dewan Pengamat kesulitan untuk menentukan siapa yang terbaik.

Dari sini kita bisa melihat tolak ukur perkembangan mulai dari anak/bocah sedini mungkin sudah mempunyai perkembangan yang luar biasa hebat. Jika dibandingkan dengan sebelumnya, secara penampilan, peningkatan peserta kali ini jauh lebih baik. Baik dari sisi jumlah maupun dari sisi penyajiannya.

Dalam pidato penutupan, Bapak sempat menyinggung keinginan untuk lebih banyak lagi daerah yang terlibat. Apa kendalanya sehingga banyak daerah belum bisa hadir dalam FDB kali ini?

Jujur kendalanya ada pada waktu persiapan. Saya sendiri ingin lebih banyak daerah-daerah yang terlibat. Bayangkan, Wayang Golek yang memiliki potensi hebat tidak bisa mengirim delegasi. Mengenai hal ini, saya akan membangun komunikasi lagi dengan teman-teman Pepadi Provinsi, khususnya Jawa Barat. Kita sempat bikin terobosan komunikasi langsung sampai tingkat Kabupaten seperti Cirebon, misalnya. Supaya Jawa Barat tetap punya perwakilan. Tapi saya sangat menyayangkan, kenapa Wayang Golek yang menjadi juara tahun lalu justru kali ini tidak muncul. Tentunya kita kepingin masih banyak gagrag terlibat dalam FDB, bukan semata gagrag tertentu. Dalam Wayang, semua gagrag memiliki cirinya masing-masing. Semua sama baiknya. Seperti gagrag Bali juga memiliki keunikan, tapi tidak bisa hadir. Kami kepingin segala potensi dalam pedalangan bisa terus menjalin silaturahmi.

Kita mau mengembangkan bakat Dalang dari usia muda, sejak dini. Tujuannya bukan untuk berkompetisi, melainkan mewadahi segala perbedaan untuk satu tujuan, Wayang. Jika wadah untuk berkumpul bisa dimanfaatkan akan sangat berguna untuk membangun semangat satu sama lain, terutama semangat anak-anak. Dalang bocah sendiri sesungguhnya berkembang cukup pesat. Kalau dihitung jumlahnya bisa mencapai 400-an anak. Memang faktor dana menjadi salah satu kendala pengembangan. Dalam festival ini pun tidak ada sumbangan dari Pemerintah. Semua keluar dari hasil kerja keras teman-teman pengurus. Memang ada beberapa bantuan dari sponsor, itupun masih jauh untuk membiayai operasional. Karena itu, kita belum mampu memberikan honor yang cukup untuk peserta. Saya berharap Pepadi di daerah bisa berkordinasi lebih aktif dan lebih baik lagi dengan Pemerintah Daerahnya, khususnya di Pulau Jawa di mana Pemdanya masih sangat peduli terhadap seni budaya.

kondang-1 Relasi antara Pepadi dengan Pemerintah, termasuk Daerah sangat besar pengaruhnya?

Tentu Wayang ini bukan hanya sekedar miliknya Pepadi. Wayang ini miliknya Indonesia, sudah diakui Dunia, tentunya Pemerintah wajib untuk mendukung. Revolusi Mental itu dari mana lagi kalau bukan dari budaya? Tidak ada kata lain. Saya pikir, Pemerintah memang harus memberikan anggaran khusus untuk mengembangkan dan melestarikan kebudayaan ini. Kalau di daerah sebenarnya sudah ada anggaran untuk itu. Justru yang kerepotan itu di Pepadi Pusat. Kita mau mintanya ke siapa? Harusnya memang ke Dinas Kebudayaan, kalau ke Presiden terlalu jauh.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dilibatkan dalam acara ini?

Kami sudah mengirimkan permohonan supaya mendapatkan bantuan, tetapi hingga hari H belum mendapatkan. Apa yang kita lakukan, semoga didengar oleh Pemerintah. Supaya kelangsungan budaya Wayang bukan hanya dipikul oleh Pepadi saja, tetapi Pemerintah juga membantu.

Keterlibatan swasta sendiri bagaimana, Pak?

Kali ini kita masih dapat sponsor dari BRI, BCA, Bank NISP, dan beberapa perusahaan swasta lainnya yang masih peduli terhadap Wayang. Memang kita nggak punya cukup waktu untuk mencari sponsor yang lebih dari ini. Tapi kita punya program ke depan, nggak lagi saat ada event kita baru mau nyari duit, tapi kita akan buat program untuk itu. Pepadi tidak harus menerima duit, bisa saja melalui kerjasama dengan perusahaan yang memiliki program kebudayaan. Program ini nantinya akan kita beritahukan juga pada Dinas Pendidikan dan Kebudyaan.

Beberapa kali FDB sering disinggung tentang keinginan untuk membuat jambore. Apakah sudah akan dilaksanakan atau masih sekedar bayangan saja?

Ini memang masukan yang cukup baik. Kalau kita sudah melaksanakan event seperti ini, janganlah kita lepas begitu saja. Kita cenderung ingin membuat sebuah ajang yang sifatnya bukan festival, tapi ajang silaturahmi. Sebut saja temu Dalang Bocah. Tiap tahun kita mau melakukan kerjasama dengan pihak-pihak Sanggar. Sanggar sesungguhnya memiliki jangkauan lebih luas karena tidak ada batasan wilayah. Nah, kita akan support sanggar yang mau melakukan. Kita ingin menciptakan suasana guyub supaya tali silaturahmi antara mereka tidak terputus.

Soal temu Dalang Bocah ini memang menjadi agenda dalam kepengurusan Bapak sekarang?

Ya, kita agendakan. Yang pasti sudah menjadi agenda kita adalah Festival Dalang Bocah setahun sekali, Festival Dalang Remaja dua tahun sekali, dan kita upayakan ajang silaturahmi setahun sekali.

Sebagai organisasi profesi, apakah Pepadi juga memiliki program terhadap Dalang dewasa yang sudah profesional?

Kalau Dalang dewasa sebenarnya dia sudah bisa berkembang sendiri dengan kemampuan yang dia miliki. Cuma, saya tidak ada bosan-bosannya untuk silaturahmi dengan banyak Dalang. Kita tetap membutuhkan kontribusi Dalang dewasa untuk memberikan contoh kepada anak-anak dan remaja.

kondang-2Selain Dalang bocah dan remaja, serta rencana silaturahmi tadi, kira-kira fokus dari program kepengurusan yang baru ini akan diarahkan ke mana, Pak?

Hasil dari Munas VI Pepadi akan menjadi patokan berjalannya organisasi. Selain ajang festival, kita juga akan melakukan kunjungan kepada teman-teman kita di daerah untuk mempererat silaturahmi dan untuk memahami persoalan di daerah serta menyerap aspirasi. Belakangan saya sudah melakukan perjalanan ke Padang Panjang, Lampung, Madiun, Solo, Medan dalam rangka membangun hubungan dengan teman-teman di daerah supaya kita bisa saling tukar pikiran. Itu semua merupakan hasil keputusan Munas yang akan jadi acuan organisasi bergerak ke depan. Kita juga melakukan dua kali Diklat (pendidikan dan latihan) dalam kepengurusan ini. Pertama di Surabaya dan belum lama ini di Lampung. Sinden dan pengrawit kita ikut sertakan dalam Diklat karena keduanya adalah anggota Pepadi. Keduanya merupakan komponen penting dalam dunia pedalangan.

Organisasi harus berjalan lebih aktif karena kita sendiri sudah hampir kehilangan. Sampai-sampai muncul pertanyaan, apa sih gunaya Pepadi? Karena itu kita harus lebih banyak diskusi. Saya selalu mengajak Dalang senior untuk membantu memahami persoalan di daerah sekaligus untuk membantu tukar pikiran. Besok, tanggal 28, saya akan ke Balikpapan. Saya akan ajak Pak Mantheb untuk ngobrol dengan kawan-kawan pedalangan di sana. Supaya teman-teman merasa diayomi dan mendapat perlindungan.

Pertanyaan terakhir, Pak. Boleh tahu siapa karakter favorit Bapak dalam dunia Wayang?

Sesuai dengan logo di properti kita, Wisanggeni. Wisanggeni punya gerakan yang tidak bisa dibaca oleh siapapun. Gerakan yang tiba-tiba muncul, tiba-tiba hilang. Seperti festival kali ini banyak yang sifatnya dadakan, butuh inisiatif yang spontan demi kelangsungan acara dan organisasi yang lebih baik. (MS & CH)

Share Button

Leave a Comment