Canggih Tri Atmojo Krisno: Hidangan Penutup yang Menyegarkan

Sebuah pertarungan sengit tengah berlangsung di pentas. Raksasa penguasa Gilingwesi, Prabu Kalapracana, bersabung dengan seorang ksatria perkasa yangmampu terbang di angkasa. Ksatria yang lahir dari olahan para dewa yang menggodog seorang bayi bersama senjata-senjata sakti itu  bernama Gathotkaca.Menundukkan Patih Sekipu dan Prabu Kalapracana, Gathotkaca pun menyelamatkan kahyangan seisinya.

Penonton masih belum bergeser, meski pergelaran dari peserta terakhir Festival Dalang Bocah III 2011 telah ditutup oleh dalangnya, Canggih Tri Atmojo Krisno. Penonton masih saja terbius dengan penampilan spektakuler si dalang. Sejak awal, si dalang berhasil menghirup perhatian penonton penuh-penuh. Menyihir penonton sejak awal dengan sabet yang atraktif, Dhimas menggambarkan dengan apik keonaran akibat dari kepongahan Prabu Kalapracana. Cerita diusungnya dengan runtut,rapi,padat, penuh greget dan tetap menyegarkan. Keonaran gara-gara tingkah polah Prabu Kalapracana ditampilkan dengan apik, dengan ritme cepat, namun tanpa membuat pengunjung kehilangan cerita. Guyonan yang dilontarkannya pun sangat mengena, usil tetapi menggemaskan. Canggih berhasil mengatur setiap ruang durasi cerita dengan proporsional, membangun klimaks tanpa terburu-buru, dan mengakhirinya dengan anggun.

Bocah yang lahir di Surakarta,22 Juni 2000, putra Bapak Harijadi Tri Putranto, S.Kar.,M.Hum dan Bu Sri Marhaendayani ini memiliki serangkaian prestasi, di antaranya, Juara III Festival Dalang Pelajar 2008, Temu dalang cilik nusantara III 2009 di TBJT Surakarta, pentas keliling 3 kota (Blitar, Rembang, Yogyakarta) 2010 kolaborasi pada acara Ulang Tahun UNY 2011 serta telah dua kali berpartisipasi dalam Festival Dalang Bocah tingkat nasional.

Lakon Gathotkaca Jedhi adalah salah satu dari tujuh lakon yang telah dipelajarinya secara terus menerus.Dengan catatan tampil kurang lebih 50 kali, Canggih berpengalaman menyajikan beberapa lakon, di antaranya Adon-Adon Rajamala, Guwarsa Guwarsi, dan Babad Alas Wanamarta. Meski telah terbiasa mempersiapkan pergelarannya, siswa kelas 6 SD 81 Jagalan Surakarta ini tetap mengaku selalu ada bagian yang menantang dalam setiap persiapan. Sebab, meski ceritanya tetap sama, tetapi dialog bisa saja berbeda, iringan bisa digarap lain dan sanggit bisa juga dibuat tidak sama di setiap pementasan. Misal, untuk penampilannya di festival kali ini, Canggih tidak begitu banyak kesulitan dalam mempersiapkan atraksi dalam sabetan maupun peneyelarasan dengan nada dasar gamelan festival.Yang tersulit adalah bahwa dia harus menghafal naskah baru dalam waktu seminggu.

Meski ayahnya seorang dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta,bungsu dari tiga bersaudara yang juga pengagum Lionel Messi ini tidak berminat untuk meneruskan profesi menjadi seorang pengajar di universitas.’Aku mau jadi dalang saja. Kan, sudah ada orang yang menjadi dosen,’ ucapnya sambil nyengir.

Meminati dunia mendalang sejak kecil tidak mengurangi ketertarikannya pada permainan lain seperti halnya anak-anak lain, seperti game online Pointball.’Kan banyak perangnya.Tembak-tembakan.Seperti Bharatayuda,’ ujarnya.

Canggih juga meneladani tokoh Gathotkaca dan Werkudara. ‘Gathotkaca itu tokoh yang sakti, dan meskipun ibunya seorang raseksi, dia tetap menjadi anak yang baik. Werkudara itu gagah dan kuat,’. Dan kekagumannya pada Gathotkaca ditunjukkannya dalam penampilannya yang juga tak kalah mengagumkan.

Diminta tentang komentarnya mengenai film yang disukainya,  satu film yang ceritanya masih sangat lekat diingatannya adalah The Chronicle of Narnia. ‘Banyak yang ajaib di dalam ceritanya,’tutur bocah imut ini. Berbeda dengan kebanyakan anak yang doyan nonton Transformer, sebaliknya Canggih sama sekali tidak menyukai dunia robot dalam film itu.’Itu,kan, film untuk anak-anak. Aku bukan anak-anak lagi.’ Oh, begitu, Dik. (Grey)

Share Button

COMMENTS

  • <cite class="fn">Huda</cite>

    Top deh bwat canggih . . .
    Semoga cita – citanya terkabul . . . Amiiien ^-^

Leave a Reply to Huda Cancel reply