Pertempuran Budaya di Kota Tua

FDB 2015 - Lapangan Fatahillah

Mengapa Kota Tua..?

Hampir tengah malam. Malam itu adalah malam minggu, malamnya anak muda, begitu kata orang-orang Jakarta. Taman Fatahillah padat dengan anak muda yang menikmati malam minggu dengan segelas kopi sembari berfoto-foto bersama. Mas Penewu Cermo Sutejo, dalang asal Gedong Kuning, Yogyakarta, sedang menggelar lakon “Kokrosono Jumeneng Ratu” di Museum Seni Rupa & Keramik, Kota Tua Jakarta. Beberapa pengeras suara terpasang terdengar hingga ke penjuru Taman Fatahillah; bahkan hingga ke Batavia Cafe yang terletak di seberang Museum Seni Rupa & Keramik.

Saya beranjak menjauhi Museum Seni Rupa & Keramik, mendekati lapangan Taman Fatahillah yang padat nan ramai. Sayup-sayup suara dalang Ki Tejo mulai bercampur dengan keriuhan lapangan. Beberapa kelompok anak muda bahkan memasang lagu-lagu dari berbagai genre; mulai dari dangdut hingga lagu rock barat. Semakin menjauh dari kompleks Museum Seni Rupa & Keramik, suara-suara itu semakin bercampur dalam irama campur-campur yang terkesan memekakkan telinga.

FDB 2015 - Lapangan Fatahillah-2Tidak ada yang salah. Pilihan Kota Tua Jakarta untuk menggelar Festival Dalang Bocah (FDB) 2015 merupakan bagian dari strategi mendekatkan wayang ke khalayak publik. Siapakah khalayak publik yang dimaksud? Kalau FDB digelar di Gedung Pewayangan Kautaman Taman Mini Indonesia Indah, tentu khalayak yang dimaksud jelas dan terang: para penikmat wayang. Di Kota Tua? Persis seperti yang digambarkan di atas. Khalayak ramai yang sesungguhnya: masyarakat Indonesia.

Dengan corak pluralisme dan demokrasi yang begitu terbuka, masyarakat Indonesia dibanjiri oleh berbagai bentuk kebudayaan yang beragam. Sebagian pihak membaginya dengan sederhana: budaya tradisi dan budaya pop. Budaya tradisi sarat dengan pesan dan nilai; sementara budaya pop lebih kerap dikaitkan dengan budaya pasar. Mana bentuk budaya tradisi, dan mana bentuk budaya pop, itu pun masih dapat diperdebatkan seiring dengan politik kekuasaan dan bahkan sang waktu. Atau mana yang salah dan mana yang benar, ini juga masih membutuhkan obrolan yang panjang yang akan disertai dengan emosi dari masing-masing pihak.

Persoalannya justru muncul ketika kita bicara identitas. Siapakah kita, akan terlihat dari bagaimana kita mewariskan kehidupan ke anak cucu. Apa yang kita makan dan telan; apa yang kita dengar dan kemudian diucapkan atau dinyanyikan; dan bagaimana nurani kita serta tindakan yang dapat memberikan dasar bagi kehidupan dan penghidupan generasi kelak; ini tentu yang akan menjadi pertanyaan kita tentang kesenian dan kebudayaan yang sesungguhnya.

Di tengah lapangan Taman Fatahillah itu pun, di malam minggu yang riuh, pertempuran kebudayaan itu terjadi. (PJD)

 

Share Button

COMMENTS

Leave a Reply to Gustienhana Cancel reply