Helmi Gondowaskito, “Si Anak Ajaib”

helmi-utama

Kabar santer yang datang dari luar itu ternyata benar: tentang anak kecil yang konon mendalang sudah mirip seperti dalang sepuh, suaranya lantang, sanggitnya bagus, sabetnya elok, kepraknya mantap, dan lain-lain. Ketika pagi itu tiba di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, sebagai lokasi tempat Festival Dalang Bocah Tingkat Nasional 2015, anak itu ditemani pengasuh atau guru, kedua orang tua serta kakek-neneknya. Benar-benar bocah polos dan lugu.

Sebelum dia naik panggung, sebagai pengisi acara penutupan fetival itu, sebuah stasiun TV swasta mewawancarainya. Di depan kamera yang diarahkan kepadanya, serta beberapa pertanyaan yang diajukan; anak itu tampak tegang, berkeringat, sulit menyampaikan pernyataan. “Grogi,” katanya.

Seusai pengumuman para dalang bocah terbaik, giliran sang dia mengisi acara. Dia memang bukan peserta festival dan belum pernah sekali pun turut dalam lomba dalang bocah. Lakon yang dibawakannya adalah Wirata Parwa. Semua yang menyaksikan terheran-heran dan kagum. Suara bocahnya tidak membuat adegan-adegan menjadi berkurang maknanya, melainkan tetap tampil sebagai peristiwa dewasa dan berbobot. Ukuran berat wayang juga sama sekali tidak mempengaruhi teknik memainkan setiap tokoh yang ada, misalnya tokoh wayang besar seperti Jagal Abilawa. Dia sama sekali tidak kerepotan.

Syahdan Wirata Parwa pun usai digelar. Sambutan hangat, rasa haru, dan bangga dari para penonton pun disampaikan, termasuk beberapa pengurus PEPADI Pusat dan pemerhati serta penghayat wayang. Semuanya menyampaikan selamat, bersyukur, kagum dan memberikan spirit agar dalang bocah itu senantiasa berlatih dan bertekun diri untuk menapaki jalan pedalangan dan wayang.

helmi-2Dalang bocah yang baru saja melakonkan Wirata Parwa itu bernama Helmi Gondowaskito. Putra Pacitan berumur 9 tahun dan duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Sejak umur 2 tahun ia sudah mulai menikmati video wayang kulit. Ke sekolah juga membawa wayang kulit. Baru setelah kelas 3, Helmi tidak membawa wayang kulit lagi bentuknya sudah rusak dan jelek. Wayang yang selalu dibawanya itu adalah tokoh Setyaki. Figur ini sampai sekarang menjadi figur idolanya.

Lahir bukan dari orang tua dalang dan pemerhati wayang kulit, Helmi menekuni satu-satunya hobi yaitu mendalang. Seorang dalang muda, Supinardi Utomo, lantas mengajarinya mendalang dan sering mengajak Hemi untuk pentas menemaninya. Mula-mula dalam pementasan, Helmi hanya berperan sebagai dalang yang mengawali lakon (mucuki). Tetapi kemudian dia sendiri sudah mampu untuk tampil sendirian. “Orang-orang dewasa, bahkan para dalang sepuh, seringkali berkomentar: edan!,” kata Supinardi, menyampaikan kesan-kesan para penonton terhadap penampilan Helmi. Bahkan dalang kondang Ki Purbo Asmoro menyebut Helmi sebagai Anak Ajaib!.

Semula kedua orang tua Helmi tidak begitu memperhatikan dan tidak menduga minat Helmi begitu mendalam terhadap dunia pakeliran wayang. Namun lama-kelamaan mereka menyadari bahwa kemampuan Helmi saat mempraktikkan kemampuannya dipandang luar biasa. Mulailah kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh di kampung, membelikan wayang satu per satu.

helmi-1Dalang idola Helmi adalah Ki Purbo Asmoro. Namun ia juga mengidolakan, mengikuti dan menyontoh Ki Manteb Sudarsono. Termasuk juga idola dalang Ki Cahyo Kuntadi untu kemampuan lisan (onto wacono). Anak yang selalu meraih ranking 1 di kelasnya ini giat dan selalu fokus saat berlatih. “Ia cepat memahami koreksi atas kekeliruannya, juga cepat menerima masukan dan usulan, dan cepat mencermati serta mempraktikkan ajaran-ajaran,“ demikian kata Supinardi. Dari proses perjalanan dalangnya yang masih dini, Helmi sejak dari awal sudah menunjukkan fokus konsentrasi hidupnya pada wilayah dalang-wayang ini. Saat ini di rumahnya terdapat gamelan komplit. Ia pun mulai mengasah kemampuannya nabuh gamelan, gender, dan kendang.

Beberapa lakon pagelaran yang dikuasai Gondowaskito ini adalah Kumbakarna Gugur, Bima Gugah, Banjaran Wisanggeni, Banjaran Jarasanda, Dewa Ruci, dan Wirata Parwa. “Pertunjukan barusan lakon Wirata Parwa, itu paling maksimal dan optimal,” begitu kesan Supinardi, mengenai penampilan Helmi di penutupan Festival Dalang Bocah. Sebelumnya ia juga sempat mengisi dalam acara Hari Wayang Sedunia 2015. Semoga keajaibannya terjaga dan berkembang untuk mengawal seni wayang agar lestari. Selamat anak ajaib..

Share Button

Leave a Comment