Dalang Lintas Batas (Dio Maulana Akhirwan)

Dalang Lintas Batas (Dio Maulana Akhirwan)

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Wayang Kulit Purwa yang notabene berasal dari tanah Jawa ternyata memiliki peminat yang berasal dari luar Jawa. Hebatnya lagi, orang tersebut tidak hanya menjadi peminat Wayang semata, melainkan Dalang, tokoh sentral dalam pertunjukkan Wayang. Festival Dalang Bocah Nasional yang sudah digelar PEPADI untuk ketiga kalinya pada tahun ini menunjukkan bahwa hal tersebut bukan merupakan suatu hal yang mustahil terjadi. Salah satu peserta perwakilan DKI Jakarta ternyata sama sekali tidak memiliki…

Share Button
SELANJUTNYA

Berjuang Mengawali Demi Kearifan Lokal (Karte Manik Dadan Kuswara)

Berjuang Mengawali Demi Kearifan Lokal (Karte Manik Dadan Kuswara)

Tidak banyak orang yang mengetahui kalau Wayang juga terdapat di daerah selain Jawa. Meski kalau ditilik dari nilai-nilai maupun pesan moral yang hendak disampaikan relatif sama dengan Wayang Purwa yang berasal dari Jawa, beberapa daerah juga memiliki kebudayaan Wayangnya sendiri. Penampilan pembuka di hari terakhir Festival Dalang Bocah Nasional (FDBN) 2011 misalnya. Pada kesempatan tersebut, Provinsi Nusa Tenggara Barat mendapat giliran menunjukkan karya asli dari daerah mereka. Wayang Kulit Sasak. Sekilas pertunjukkan Wayang Kulit Sasak…

Share Button
SELANJUTNYA

Unaryo: Berharap tradisi Wayang Cirebon dapat dikenal lebih luas

Unaryo: Berharap tradisi Wayang Cirebon dapat dikenal lebih luas

Keberanian adalah bekal utamanya untuk tampil dalam perhelatan besar Festival Dalang Bocah Nasional III 2011. Dengan persiapan yang tergolong sebentar, Unaryo, peserta festival penyaji wayang Cirebonan berhasil mengesampingkan rasa ragunya, dan dengan percaya diri dimainkannya kisah Bambang Erawan Gugur. Didampingi ayahnya yang juga menjabat Ketua Pepadi Cirebon, Unaryo berbagi sedikit tentang pengalamannya belajar mendalang khas Cirebon. Unaryo mengaku awalnya merasa kurang terdorong untuk mempelajarinya. Hal ini lebih karena Wayang Cirebon tidak sepopuler wayang Surakarta maupun…

Share Button
SELANJUTNYA

Ki Yogaswara Sunandar : Dalang Harus Berwawasan Luas

Yogaswara Sunandar, begitu nama peserta Festival Dalang Remaja (FDR) 2011 perwakilan Pepadi Propinsi Jawa Barat. Dengan mengambil gaya Golek Sunda, Yoga, demikian panggilannya, menampilkan lakon “Jaya Perbangsa” di Teater Kautaman, Gedung Pewayangan Kautaman TMII, Jakarta (20/10). Penampilannya siang ini cukup memikat penonton, terutama karena gagrag Golek Sunda yang memang hanya ditampilkan secara tunggal oleh peserta asal Jawa Barat ini. Tentang gaya dan ketertarikannya pada dunia pewayangan, Yoga mengakui mendapatkannya dari sang ayah, Asep Sunandar Sunarya….

Share Button
SELANJUTNYA

Ki Sunarno: Suara dari Pulau Seberang

Budaya Jawa, mungkin sudah mendarah daging dalam diri Sunarno. Lahir dan besar di Pulau Andalas, tepatnya Sumatera Utara,remaja berusia 22 tahun ini justru menganggapnya sebagai cambuk untuk melestarikan Wayang, khazanah budaya yang berasal dari tanah kelahiran orang tuanya, Pulau Jawa. Satu niat yang terlintas dalam pikirannya hanyalah, kebudayaan adiluhung ini meski berkibar di Tanah Andalas. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Festival Dalang Remaja (FDR) 2011 yang digelar PEPADI Pusat di Jakarta pun dijadikannya sebagai kesempatan…

Share Button
SELANJUTNYA

Ki Sri Hastanto: Kenekadan Sebuah Tekad

Lakon Sang Ajoto Satro menjadi penutup hari pertama Festival Dalang Remaja (FDR) 2011 yang digelar di Gedung Pewayangan Kautaman TMII, Jakarta. Ki Sri Hastanto, sang dalang, sengaja memilih lakon yang menggunakan Puntadewa sebagai tokoh utamanya karena sangat jarang dimainkan. Meski mengidolakan Werkudoro sebagai karakter favoritnya, menurutnya Puntadewa sama dengan Pandawa Lima lainnya yang memiliki kelebihan, hanya saja dalam festival seperti FDR ini, kebanyakan memilih lakon dengan tokoh utama seperti Werkudoro atau Arjuna yang banyak memainkan…

Share Button
SELANJUTNYA

Ikatan Syndroma Down Indonesia Hadiri Festival Dalang Remaja 2011

Hari kedua Festival Wayang Remaja (20/10) diramaikan oleh kehadiran kawan-kawan Ikatan Syndroma Down Indonesia (ISDI). Ibu Dewi Wardhani selaku pembina mengatakan jika kehadiran mereka merupakan bagian dari pendidikan kepada kawan-kawan penyandang down syndrome. “Wayang kaya dengan nilai, tetapi yang lebih penting secara visual wayang juga menarik. Terutama bagi kawan-kawan ini karena hal itu dapat merangsang perkembangan mereka. Mereka ini tuna grahita jadi butuh stimulan-stimulan yang lebih ketimbang umumnya mereka yang normal.” ISDI (Ikatan Sindroma Down…

Share Button
SELANJUTNYA

Ki Sudaryanto: Indonesia Itu Gudangnya Seni

Pementas hari ke-2 Festival Dalang Remaja (FDR) 2011, Ki Sudaryanto tampil dengan lakon “Sumantri Ngenger” di Gedung Pewayangan Kautaman TMII, Jakarta (20/10). Dengan menggunakan gagrag Surakarta, Daryanto atau Dar, demikian panggilannya, mewakili Pepadi Propinsi Bengkulu. Ia mengaku, ini penampilan pertamanya di ajang kompetisi tingkat nasional, namun itu tidak menyurutkan langkahnya untuk tampil ciamik. Di depan para juri, remaja kelahiran Sidoluhur, Bengkulu, 8 Februari 1988 ini memberikan performa terbaiknya. Dar sempat menitikkan airmata saat-saat terakhir menutup…

Share Button
SELANJUTNYA

(LAGI-LAGI) SOAL INDONESIA & WAYANG-WAYANGNYA Tepi Batas Seni Tradisi & Nafas Para Urbanis

(LAGI-LAGI)  SOAL INDONESIA & WAYANG-WAYANGNYA Tepi Batas Seni Tradisi & Nafas Para Urbanis Kita boleh bernafas lega, setidaknya sedikit. Karna pertanyaan “wayang, apa tuh?…” tidak terdengar dari kawan-kawan yang hadir menyaksikan Festival Dalang Remaja kali ini. Ya, Gedung Pewayangan Kautaman, TMII hari ini disesaki tawa dan canda. Kawan-kawan dari SMP Negeri 222 dan SMP Negeri 149, Jakarta tampak tak sabar memasuki ruang pertunjukan. Nazla Iasha Fitri yang akrab disapa Nazla menuturkan kalau ini adalah kali…

Share Button
SELANJUTNYA

Ki I Dewa Ketut Wicaksandhita: Putra Klungkung Pewaris Gagrak Bali

Salah satu penampil di Festival Dalang Remaja 2011 adalah Ki I Dewa Ketut Wicaksandhita. Hadir dengan lakon Kunthi Yadnya, pemuda kelahiran Denpasar, 20 Maret 1995 ini tampil memikat hadirin.Ketut Rai, panggilan sehari-hari Ki I Dewa Ketut Wicaksandhita, mengawali karir sebagai dalang sejak kelas 4 SD. “Awalnya sebenarnya tidak sengaja. Kebetulan waktu itu saya sedang merancang Pesta Kesenian Bali dan salah satunya adalah Parade dalang Cilik. Nah, ketika saya berputar tidak ada dalang cilik dari daerah…

Share Button
SELANJUTNYA
1 2 3 4